Sejarah berdirinya Pondok Pesantren Bustanu 'Usysyaqil Qur'an (BUQ) Betengan Demak
Di Demak, hiduplah seorang ulama hafizh Al-Qur'an bernama Kyai Ali Hafizh yang biasa dipanggil Kyai Apil. Beliau amat dikenal dan dihormati oleh masyarakat Demak. Apalagi pada saat itu, ulama yang hafizh Al-Qur'an memang masih sedikit sekali. Namun, pada tahun 1920-an, beliau wafat.
Seorang saudagar Demak bernama H. Taslim yang merupakan teman dekat Kyai Apil merasa sangat kehilangan atas wafatnya Kyai Hafidz Al-Qur'an tersebut. Karena itulah, beliau berkeinginan untuk mendapatkan seorang menantu yang hafizh Al-Qur'an dan dapat mengajarkan Al-Qur'an kepada masyarakat Demak.
Tidak berlangsung lama, keinginan H. Taslim akhirnya terwujud. Ternyata keponakan beliau, R. Muhammad yang berasal dari Tremas, Jawa Timur, adalah seorang remaja yang hafizh Al-Qur'an sekaligus menguasai ilmu-ilmu agama. Sang paman pun menaruh simpati kepadanya. Karena itulah, beliau berusaha agar bisa menjodohkannya dengan salah seorang putrinya yang bernama Fathimah. Alhamdulillah, usaha dan do'a beliau dikabulkan oleh Allah sehingga akhirnya R. Muhammad dapat dinikahkan dengan putrinya.
Setelah menjadi menantu H. Taslim, R. Muhammad masih mengajar di Pondok Tremas selama satu tahun. Setelah waktu tersebut berlalu, barulah beliau pulang ke rumah mertuanya di Demak. Kepulangan beliau ke Demak diikuti oleh santri-santri beliau yang menghafalkan Al-Qur'an di Tremas. Kurang lebih tiga tahun beliau tinggal bersama mertua sembari mengajarkan ilmu yang ia kuasai, terutama ilmu Al-Qur'an, kepada para muridnya.
Melihat semakin banyaknya santri yang belajar kepada beliau, H. Taslim (sang mertua) dan masyarakat sekitar mendorong beliau untuk mendirikan pondok pesantren. Hal itu juga untuk menampung para santri yang sebagian bertempat di rumah mertuanya dan sebagian di rumah-rumah penduduk. Akhirnya pada tahun 1936, beliau mendirikan sebuah pesantren di daerah Betengan, Bintoro, Demak. Pendirian pesantren tersebut juga atas restu dari guru-guru beliau, yaitu KH. Ma'shum Lasem, KH. Masyur Popongan Klaten, dan KH. Munawwir Krapyak Yogyakarta.
Pesantren ini diberi nama oleh KH. Munawwir dengan "Bustanu 'Usysyaqil Qur'an" yang berarti "Taman Para Perindu Al-Qur'an". Di sinilah beliau kemudian hidup mandiri mengembangkan ilmu-ilmu yang diperolehnya. Di sini pula, beliau membangun rumah tangga bersama istri tercinta yang kelak memberi beliau enam orang putra.
Kepribadian KH. R. Muhammad bin Mahfuzh At Tarmasi — Dengan berpindah ke tempat tersebut, beliau mengajarkan Al-Qur'an kepada para santri dengan sungguh-sungguh. Bahkan, sebagian besar kehidupan beliau dicurahkan untuk mendidik para santri. Beliau dikenal sangat disiplin, selalu hadir di majelis pengajian dengan tepat waktu dan tidak mengakhiri pengajian sebelum jam yang ditetapkan. Terlebih lagi pada bulan Ramadhan, kedisiplinan beliau selalu ditekankan.
Beliau juga mengajarkan santrinya untuk selalu rajin (mempeng — bahasa Jawa) yang merupakan salah satu modal utama guna meraih kesuksesan dalam menuntut ilmu. Bahkan, salah seorang santri beliau menjabarkan ajaran tersebut, "Ibarate seliramu sedino ngendok peng limo, iku luweh apik tenimbang seliramu samben dino poso, ning tura-turu tok!" (Artinya: Ibaratnya kamu sehari makan lima kali asal mau rajin serta sungguh-sungguh dalam belajar, maka hal itu lebih baik daripada kamu setiap hari puasa tapi tidur melulu!).
Di samping kesibukan mengajar para santri, KH. R. Muhammad selalu menyempatkan diri untuk mengkhatamkan Al-Qur'an setiap hari. Bahkan, dari beberapa keterangan yang diterima, beliau terbiasa mengkhatamkan Al-Qur'an 30 juz dalam waktu yang relatif singkat, yaitu lebih kurang tiga puluh menit. Itulah salah satu karomah beliau. [Al-Chakim dan Akmal Fadi]
Lembaga Pendidikan Al-Qur'an
Bustanu 'Usysyaqil Qur'an Betengan Demak
Jl. Sunan Kalijaga 35, Betengan, Bintoro, Demak, Jawa Tengah
Senin - Kamis, 09.00 - 13.00 WIB
(0291) 1234567
info@buqbetengan.sch.id